RAIH KEMENANGAN KLIK DI SINI

Selasa, 26 April 2011

Justin Bieber Menaklukkan Dunia

Selasa,

26 April 2011

RUSWANTO ADI PRADANA ONLINE

Justin Bieber Menaklukkan Dunia

Justin Bieber. (Kompas/Heru Sri Kumoro)***

Oleh Dwi As Setianingsih

Superstar yang lahir dari fenomena Youtube itu akhirnya menginjakkan kakinya ke Jakarta, Indonesia, Jumat (22/4) pukul 14.55. Sabtu malam, remaja asal Kanada yang belum genap berusia 18 tahun itu mengguncang Sentul International Convention Center yang dipadati 10.000 penonton dalam konser yang merupakan rangkaian tur MyWorld-nya. ”Superboy” Justin Bieber membuktikan kemampuannya dan sukses menaklukkan Jakarta, seperti kota-kota besar dunia lain yang dikunjunginya.

Bieber adalah demam yang tengah melanda anak-anak dan remaja dunia, tak terkecuali Jakarta, Indonesia. Tiket konsernya yang dijual mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 1.650.000 ludes terjual hingga mencatat jumlah 10.054, sesuai kapasitas Sentul International Convention Center (SICC). Saat konser berlangsung, tak ada tempat duduk kosong. Semua terisi.

Padahal untuk mendapatkan tiket konser Bieber bukan perkara mudah. Mereka harus antre hingga berdesak- desakan saat promotor membuka loket tiket pertama kalinya di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Pusat.

Namun, apalah artinya tiket mahal dan perjuangan untuk mendapatkannya dibandingkan dengan kesempatan emas untuk melihat idola lebih dekat, atau menyaksikan aksinya di atas panggung.

Tak heran, sepanjang konser berlangsung, histeria belieber—sebutan untuk fans Bieber—benar-benar tak terkendali. Sejak kemunculan Bieber di atas panggung, nyaris tak ada penonton yang duduk diam. Mereka berdiri dari kursi, mengikuti seluruh gerakan, dan menyanyikan lagu-lagu Bieber seperti Love Me, I’ l be, One Time, That Should Be Me, Pray, dan tentu saja Baby yang menjadi lagu pamungkas konser malam itu.

Kamera ponsel dan kamera saku tak pernah lepas mengikuti seluruh gerak-gerik Bieber. Tidak terhitung berapa banyak gadis yang menangis histeris menyaksikan idolanya nyata- nyata berada di hadapan mereka.

Yang dielu-elukan pun tampaknya cukup tahu diri. Malam itu, Bieber tak sekadar menyanyi dan menari. Dia juga menunjukkan kemampuannya memainkan gitar dan drum. Sebuah bukti bahwa meski lahir sebagai produk Youtube, Bieber tidak bisa diremehkan. Pemuda tanggung berambut pirang keemasan itu memiliki apa yang disebut orang sebagai entertainer sejati.

”Seluruh penampilan Justin tidak ada yang minus. Semuanya sempurna. Dia membuktikan bahwa dia adalah seorang entertainer sejati. Sangat menghibur,” komentar Ariyo Wahab, personel The Dance Company, yang menyaksikan Bieber bersama istri dan dua anaknya.

Berkah Youtube

Bieber mengawali kariernya di dunia musik sejak mengikuti sebuah kontes menyanyi di kota kelahirannya, Stratford Idol. Meski tidak pernah mengikuti latihan vokal, Bieber berhasil meraih juara dua. Saat itu usianya baru 12 tahun.

Agar teman dan kerabatnya bisa menyaksikan video kemenangannya, Bieber mengunggahnya ke Youtube. Tidak disangka, banyak yang tertarik. Dalam waktu singkat, video Bieber dikunjungi ribuan orang dan menarik seorang pencari bakat, Scooter Braun, yang kini menjadi manajer Justin.

Scooter-lah yang kemudian memperkenalkan Bieber kepada Usher, yang kini menjadi produsernya. Malah tidak hanya Usher, Justin Timberlake dan Stevie Wonder pun tertarik memproduseri Bieber, meski akhirnya Bieber memilih ditangani Usher.

Tahun 2008, Bieber menandatangani kontrak dengan Island Records dan melahirkan debut album ”My World” yang berkisah tentang dunianya sebagai remaja. Lagu-lagunya banyak yang berkisah tentang cinta dan perjalanannya sebagai seorang remaja.

Melalui lagu-lagunya, Bieber memberi dorongan positif bagi para penggemarnya untuk meraih cita-cita dan tujuan mereka. Paduan wajah ganteng, kemampuannya dalam bermusik yang di atas rata-rata, serta sikapnya yang manis terutama dengan para gadis, membuat Bieber dengan cepat menjadi idola di seluruh dunia.

Bieber membuat pilihan untuk memengaruhi orang dengan cara positif. Sebagai musisi muda, dia berharap orang dewasa juga menerima musiknya karena dia memastikan selalu bersungguh-sungguh menyanyikan lagu-lagunya.

Meski telah berhasil menggenggam dunia dan menaklukkan gadis-gadisnya, Bieber tetaplah seorang remaja biasa. Dia tak terlalu suka bila kisah asmaranya dengan bintang Disney, Selena Gomez, terlalu diekspose.

Bagi Bieber, penggemarnya yang ada di seluruh dunia adalah yang utama. Merekalah yang telah menjadikannya besar seperti saat ini, hingga berhasil menaklukkan dunia. Merekalah yang akan selalu menjadi inspirasi bagi Bieber dalam perjalanan kariernya di masa depan.

Berlibur ke Bali

Setelah sukses memuaskan ribuan penggemarnya di Jakarta, Minggu malam Bieber terbang ke Bali. Dia bermaksud rehat sejenak dari rutinitas tur yang telah dilakoninya sejak pertengahan 2010 lalu. Minggu siang Bieber masih tampil di sebuah mini konser di Sheraton Bandara, khusus untuk penonton VVIP.

Tak ada agenda khusus selama dia berada di Bali, kecuali benar-benar berlibur. Di Bali, Bieber menikmati waktunya dengan leluasa tanpa dibuntuti penggemar. Kedatangannya ke Pulau Dewata itu amat sangat dijaga kerahasiaannya oleh promotor yang mengundangnya, Berlian Entertainmet. Bisa dibayangkan, bila informasi ini tersebar luas, dijamin para belieber akan menyerbu Bali untuk bertemu idolanya itu lebih lama lagi.

Bieber rupanya ingin menjajal wake board. Di private beach di kawasan Tanah Lot, Bieber mencoba menantang adrenalinnya dengan bermain air di salah satu pantai tercantik di Bali itu. Bieber yang tiba Minggu malam pukul 23.00, terlambat beberapa jam dari rencana semula, didampingi sang mama, Pattie, manajernya, Scooter Braun, serta timnya.

Bieber sempat mampir ke The Stone, sebuah club dan lounge di kawasan Kuta. Dia menyanyi dan memainkan drum, membawakan ”Sweet Home Alabama” .

”Aku lelah. Tapi tak apa-apa. Ini sangat menyenangkan,” tuturnya sembari tersenyum. Bieber juga tak keberatan untuk difoto. Kepada Raja Sapta Oktohari dari Mahkota Promotions, salah satu promotor pengundang, Bieber mengungkapkan keinginannya untuk suatu saat berkunjung ke Bali tanpa embel- embel konser.

”Justin adalah sosok manusia biasa. Dia juga ingin bisa menikmati liburan tanpa gangguan. Bangga dia memilih untuk berlibur di Bali,” ujar Okto.

Bieber meninggalkan Bali Selasa dini hari dan langsung menuju Brisbane, Australia, untuk melanjutkan turnya. ***

Justin Drew Bieber
• Lahir:
Stratford, Ontario, Kanada, 1 Maret 1994
• Profesi: Penyanyi pop, R&B
• Orang tua :
- Jeremi Jack Beiber (Ayah)
- Patricia (Pattie) Lynn Mallette (Ibu)
• Diskografi:
- My World (2009) - My World 2.0 (2010)
- My World Acoustic (2010)
- May Worlds: The Collection (2010)
- Never Say Never
-The Remixes (2011)
- Single (antara lain):
- One Time
- One Less Lonely Girl
- Favorite Girl
- Baby
• Filmografi:
- True Jackson, VP (2009)
- Silinet Library (2009)
- School Gyrls (2010)
- Saturday Night Live (2010)
• Penghargaan:
- Nominasi ”The Best New Artist pada MTV Video Music Awards 2010
- Bes New Artist dengan lagunya bersama Ludacris berjudul Baby, MTV VMA 2010 Sumber:

(Litbang Kompas/Dewi)***

Source : Kompas, Selasa, 26 April 2011

KOMENTAR

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • komedikus

Selasa, 26 April 2011 | 06:50 WIB

Sekadar info, wabah â??beiberisasiâ?? kini juga melanda para politisi dan elit Indonesia. Silakan menikmati tweets tentang mereka : SBY nama standar. Pak Beye mencitrakan degradasi. Tim humas presiden segera meluncurkan nama bercitra baru. SBbY : Susilo Beiber Yudhoyono. Slogan saat SBY berkampanye juga diperbarui. Dengarkan kini di radio-radio seruan heroik seperti ini : â??Beibersama kita bisa !â?? Untuk mendongkrak citra di kalangan anak muda,Ketua Umum Partai Golkar tak mau kalah.Dia kini ngetop di Facebook sebagai : Abubeiber Bakrie. Tak ketinggalan pula Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat. Anas Urbeiberningrum dan Edhie Beiber-koro :-( Kelompok musik gaek Koes Plus juga berniat melakukan revitalisasi dengan nama yang trendi. Koes Bersaudara menjadi Koes Beibersaudara. Band Panjaitan Bersaudara yang dikenal sebagai Panbers, kini siap merilis album baru dengan nama baru pula : Panbeibers ! Untuk mendongkrak popularitasnya kembali, Barack Obama pun, menurut David Letterman, segera berganti nama menjadi : Bajustin Obieber ! â??Beibersatu kita teguh, beibercerai kita runtuh !â?? (Sumber : http://komedian.blogspot.com/2010/10/menggeber-badai-twitter-beiber-di-bulan.html).

Balas tanggapan

TIPS & CATATAN Foto Jurnalisme adalah Gawang Demokrasi

Selasa,

26 April 2011

RUSWANTO ADI PRADANA ONLINE

TIPS & CATATAN

Foto Jurnalisme adalah Gawang Demokrasi

Rahmat Gunawan

The Offsprings of Volcano

Oleh ARBAIN RAMBEY

”Kekuatan fotografi selalu menjadi referensi atas pelaksanaan demokrasi. Namun dia dapat berubah menjadi imaji sia-sia kala melayani kepentingan inferior para oknum pejabat yang tamak. Foto jurnalisme tak sekadar menyampaikan berita lalu habis perkara. Tindak lanjut atas subyek- subyek yang terpotret tetaplah pantas dilakukan demi kesaksian para pewarta foto di garis depan peristiwa dan tentunya: SEJARAH….”

Kata pengantar kurator Oscar Motuloh pada buku fotografi jurnalistik berjudul Mount Merapi 10 yang akan diluncurkan Rabu malam besok di Duta Fine Arts Gallery, Kemang Utara, Jakarta Selatan, sungguh mengingatkan kita bahwa foto jurnalistik adalah bagian dari kehidupan modern kita dengan segala konsekuensinya.

Kehidupan yang baik dan adil haruslah didukung oleh sistem pers yang juga baik dan tidak memihak mana pun. Dengan demikian, keseimbangan dalam segala hal terjadi karena pejabat yang sedang menjabat maupun masyarakat yang ada selalu saling mengawasi lewat pers yang ada.

Pertanyaan yang menyeruak: siapakah yang harus menjamin keberadaan pers yang baik itu?

Jawaban pertanyaan terakhir itu sungguh tidak mudah. Pers yang baik harus muncul dari pihak netral. Dan, akhirnya, memang pers yang baik harus mengader dirinya sendiri.

Patut diacungi jempol upaya Aliansi Pewarta Foto dan Pekerja Profesional yang dibentuk dengan sangat tidak formal. Dimotori juga oleh Galeri Fotografi Jurnalistik Antara, dan banyak sponsor yang sepaham, mereka menyiapkan sebuah sistem pendidikan ke dalam bagi foto jurnalistik Indonesia. Peluncuran buku Mount Merapi 10 tersebut memang berniat menggalang dana bagi pendidikan fotografi jurnalistik di Indonesia.

”Semua uang hasil penjualan buku akan dipakai untuk mendanai liputan peristiwa-peristiwa besar di Indonesia bagi para jurnalis foto independen. Dengan demikian, pendidikan jurnalistik kita bisa berkembang dengan baik tak semata diarahkan pihak tertentu,” kata Oscar.

Sebuah upaya yang luar biasa dan tentunya harus kita dukung bersama.***

Source : Kompas, Selasa, 26 april 2011

Minggu, 24 April 2011

Orang Indonesia Kian Pendek dan Gemuk

Sabtu,
23 April 2011

RUSWANTO ADI PRADANA ONLINE

GIZI MASYARAKAT

Orang Indonesia Kian Pendek dan Gemuk

Ilustrasi

JAKARTA, RUSWANTO ADI PRADANA ONLINE - Pola konsumsi makanan yang tak berimbang menyebabkan struktur tubuh anak-anak Indonesia semakin tidak ideal. Jika tidak segera diatasi, karakter fisik manusia Indonesia ke depan adalah pendek dan gemuk.

”Tubuh pendek terkait kondisi ekonomi, sedangkan gemuk berhubungan dengan pola makan seseorang,” kata Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Minarto dalam Seminar Gizi Lebih: Ancaman Tersembunyi Masa Depan Anak Indonesia di Jakarta, Rabu (20/4).

Data Direktori Pengembangan Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan 2009 menunjukkan, konsumsi pangan hewani masyarakat Indonesia baru mencapai 60 persen dari jumlah yang dianjurkan. Badan pendek disebabkan kurangnya asupan pangan hewani. Adapun kegemukan terjadi karena kelebihan konsumsi makanan yang mengandung minyak dan lemak serta padi-padian.

Berdasarkan penelitian Atmarita dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan pada 2010, tinggi badan anak laki-laki Indonesia pada umur 5 tahun rata-rata kurang 6,7 sentimeter dari tinggi yang seharusnya, sedangkan pada anak perempuan kurang 7,3 sentimeter. Anak umur 5 tahun seharusnya memiliki tinggi badan 110 sentimeter.

”Kurangnya konsumsi pangan hewani akan membuat kurangnya sejumlah zat gizi mikro yang menjadi kebutuhan dasar tumbuh kembang anak,” kata Minarto. Konsumsi pangan hewani tidak dapat digantikan jenis bahan pangan lain. Jenis pangan ini dapat diperoleh dari daging, aneka jenis ikan, dan telur.

Kasus kegemukan meningkat

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2010, prevalensi kegemukan anak balita Indonesia mencapai 14 persen, dengan rincian prevalensi 14,9 persen dari keluarga kaya dan 12,4 persen dari keluarga miskin. Jumlah anak balita kegemukan meningkat karena survei serupa pada 2007 menunjukkan prevalensi anak balita kegemukan baru 12,2 persen. Kasus kegemukan paling banyak terjadi tahun 2010, yaitu di Jakarta dengan 19,6 persen.

Dosen Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan anggota Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia, Saptawati Bardosono, mengungkapkan, penumpukan lemak pada pinggang, yang biasanya dialami orang dewasa, kini semakin banyak terjadi pada anak-anak.

Selain akibat pola makan yang keliru, yaitu banyaknya konsumsi susu dan makanan manis, kegemukan juga disebabkan kurangnya aktivitas fisik karena anak terlalu banyak menonton televisi dan berkegiatan di dalam rumah yang sempit. Salah jika ada anggapan yang mengatakan bahwa anak gemuk adalah anak yang lucu dan sehat.

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Rini Sekartini, menambahkan, kegemukan meningkatkan risiko penyakit terkait jantung dan pembuluh darah, diabetes, kanker, kelainan otot, serta kelainan pernapasan. (MZW)***

Source : Kompas, Kamis, 21 April 2011

KOMENTAR

Ada 54 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • jaywalker walker

Sabtu, 23 April 2011 | 13:47 WIB

gimana indonesia mau maju, yg dipikirkan bikin anak aja tanpa mikirkan gizinya. malah gubernur Sumaber dari PKS anaknya 9. kok orang kayak gini bisa kepilih jadi gubernur.

Balas tanggapan


  • frento sde

Jumat, 22 April 2011 | 23:50 WIB

gak apa apa makin pendek dan gemuk,,,,yg penting jumlahnya makin banyak hehehe,,,,,,

Balas tanggapan


  • theo irianto

Jumat, 22 April 2011 | 13:57 WIB

Ada begitu banyak faktor untuk sehat, seperti istirahat cukup, oksigen cukup, sinar matahari cukup, dll. Tapi kalo bicara soal makanan, tiap mahluk hidup di bumi ini tentu punya makanan alaminya sendiri. Kuda makan rumput, singa makan daging, burung makan padi-padian, tanpa dimasak tentunya. Kalo manusia, dilihat dari segi fisiologisnya (gigi, ph tubuh, proses pencernaan, mata dan lidah yang bisa mengecap ribuan warna dan rasa, dll) yang paling mirip (sorry) kera, yah mayoritas makanannya mestinya buah-buahan dan sayuran mentah yang matang di pohon, bebas pestisida dan rendah lemak. Panduannnya minimal 80% karbohidrat, maximum 10% lemak dan max 10% protein. Tiap mahluk kalo kaga dikasih makan yang merupakan makanan alaminya mana mungkin bisa makmur tubuhnya, begitu juga dengan manusia. Cuma manusia yang makan segala macam plus dimasak dengan panas api, dari daging, minyak, sampai ke padi-padian. Panas api membuat molekul makanan bermutasi jadi racun dan kehilangan mayoritas nutrisi, hasilnya cuma makanan 'junkfood' yang berkalori kosong (tanpa mikronutrisi dan overdose lemak maupun protein hewani). Moga-moga membantu. Sumber: THE 80/10/10 DIET by Douglas Graham.

Balas tanggapan


  • theo irianto

Jumat, 22 April 2011 | 13:57 WIB

Ada begitu banyak faktor untuk sehat, seperti istirahat cukup, oksigen cukup, sinar matahari cukup, dll. Tapi kalo bicara soal makanan, tiap mahluk hidup di bumi ini tentu punya makanan alaminya sendiri. Kuda makan rumput, singa makan daging, burung makan padi-padian, tanpa dimasak tentunya. Kalo manusia, dilihat dari segi fisiologisnya (gigi, ph tubuh, proses pencernaan, mata dan lidah yang bisa mengecap ribuan warna dan rasa, dll) yang paling mirip (sorry) kera, yah mayoritas makanannya mestinya buah-buahan dan sayuran mentah yang matang di pohon, bebas pestisida dan rendah lemak. Panduannnya minimal 80% karbohidrat, maximum 10% lemak dan max 10% protein. Tiap mahluk kalo kaga dikasih makan yang merupakan makanan alaminya mana mungkin bisa makmur tubuhnya, begitu juga dengan manusia. Cuma manusia yang makan segala macam plus dimasak dengan panas api, dari daging, minyak, sampai ke padi-padian. Panas api membuat molekul makanan bermutasi jadi racun dan kehilangan mayoritas nutrisi, hasilnya cuma makanan 'junkfood' yang berkalori kosong (tanpa mikronutrisi dan overdose lemak maupun protein hewani). Moga-moga membantu. Sumber: THE 80/10/10 DIET by Douglas Graham.

Balas tanggapan


  • theo irianto

Jumat, 22 April 2011 | 13:57 WIB

Ada begitu banyak faktor untuk sehat, seperti istirahat cukup, oksigen cukup, sinar matahari cukup, dll. Tapi kalo bicara soal makanan, tiap mahluk hidup di bumi ini tentu punya makanan alaminya sendiri. Kuda makan rumput, singa makan daging, burung makan padi-padian, tanpa dimasak tentunya. Kalo manusia, dilihat dari segi fisiologisnya (gigi, ph tubuh, proses pencernaan, mata dan lidah yang bisa mengecap ribuan warna dan rasa, dll) yang paling mirip (sorry) kera, yah mayoritas makanannya mestinya buah-buahan dan sayuran mentah yang matang di pohon, bebas pestisida dan rendah lemak. Panduannnya minimal 80% karbohidrat, maximum 10% lemak dan max 10% protein. Tiap mahluk kalo kaga dikasih makan yang merupakan makanan alaminya mana mungkin bisa makmur tubuhnya, begitu juga dengan manusia. Cuma manusia yang makan segala macam plus dimasak dengan panas api, dari daging, minyak, sampai ke padi-padian. Panas api membuat molekul makanan bermutasi jadi racun dan kehilangan mayoritas nutrisi, hasilnya cuma makanan 'junkfood' yang berkalori kosong (tanpa mikronutrisi dan overdose lemak maupun protein hewani). Moga-moga membantu. Sumber: THE 80/10/10 DIET by Douglas Graham.

Balas tanggapan

Senin, 18 April 2011

PUISI Gunawan Maryanto, Toni Lesmana, dan Ahmad Muchlish Amrin

Senin,
18 April 2011

RUSWANTO ADI PRADANA ONLINE

P U I S I

Gunawan Maryanto

OIDIPUS 1

Kita pernah melewatinya, dengan sedikit tergesa: jalan tanah menuju pekuburan itu. Aku Oidipus dan kau Antigone. Aku buta dan kau terlalu muda.

“Ada angin berayun di atas ban bekas di tepi jalan. Di seberangnya, pagar bata setengah badan,” katamu, seperti biasa, menjadi sepasang mataku.

Aku mencium bau lumut, Anakku. Aku mencium bau kematian yang langu.

“Tak ada yang layak kuceritakan: pagar lumutan, rumah-rumah kosong. Bentangan sawah di kejauhan. Kau pernah melihat segalanya, Papa, sebelum peniti itu menyudahi matamu. Apakah ini tempat yang dijanjikan. Di mana kita akan diam dan menetap?”

Bukan. Kita hanya pernah melewatinya. Entah kapan. Kau Oidipus aku Antigone. Aku bertanya, siapa menaruh bandulan dari ban itu di sana, di pohon angsana. Lalu lumut, kenapa ia begitu setia. Melekat pada pagar di samping kita.

Aku ingat kita pernah bertukar rupa. Di jalan tanah yang sama.

Jogja, 2010

Gunawan Maryanto

OIDIPUS 2

“Ini jalan tanah yang keramat, Kakakku. Tak ada satu pun yang berani lewat.”

Jika demikian kita kian dekat, Adikku. Orakel tak pernah keliru memberi alamat. Di sini aku mencium hujan yang sudah lewat. Mengendap di dalam dinding-dinding bata. Menyelinap di antara genting-genting tanah liat. Aku dengar tawa Ismene bermain ayunan dari ban karet. Tawanya berderai seperti tempias hujan di rumah kita.

Oidipus dan Antigone berpelukan di jalan tanpa nama.

Jalan yang telah lama ditinggalkan para pejalan.

Jogja, 2010

Gunawan Maryanto

OIDIPUS 3

Aku pernah berlari. Jauh sekali. Meninggalkan kematian bapakku dan keindahan tubuh ibuku. Lalu di sebuah jalan tanah yang sedikit basah aku membunuh seorang pejalan. Sebuah pagar setengah badan merekam dan menyimpannya di sebalik lumut yang lebih tua dari kesedihan.

Sepi. Hanya angin menggoyang sebuah ayunan. Menggoyang bayang Jocasta dalam lamunan. Lalu di sebuah rumah kosong kami bercinta. Sebelum gelap, sebelum sepenuhnya gelap, aku menyimpan kilau air matanya.

“Kenapa kakimu bengkak serupa gajah?”

Aku diam mengingat sebuah padang rumput. Seseorang memaku kakiku.

Sejak saat itu panggil saja aku Oidipus.

Jogja, 2010

Toni Lesmana

TIGA SAJAK KASMARAN

1

pada sehampar angin kau membaringkan segalanya. seperti sebuah kitab dengan huruf yang terus berubah dan kata-kata yang bersikeras mematangkan diri pada perubahan cuaca.

2

lehermu menyembunyikan sungai yang paling kurindukan. arus yang menyalakan purnama di dadamu. dan memekarkan mawar di pahamu. ayat-ayat yang menyertai risalah napas dan kehidupan.

3

tubuhmu adalah perjalanan. membujur ke utara. rambut dan telapak kakimu menyatukan dua kutub. sementara pusarmu adalah pusat yang dicintai matahari. tanganmu terentang ke barat dan timur. aku membacamu sambil menghapal arah dan musim.

2011

Toni Lesmana

BAIT-BAIT YANG GUGUR DARI KITAN LUPA

(1)

sunyi tak memiliki nama

tapi ia membuka seluruh pintu

untuk setiap nama

yang mengetuknya

(2)

waktu adalah penyair

detik yang kita baca selalu baru

dan segar. padat dan runcing

bukankah usia adalah sajak

yang terus kita hayati

hingga mati

(3)

peristiwa seperti undakan

ada airmata, tawa, rahasia

yang menunggu untuk direguk

sebelum terus mendaki

menuju rumah kekasih

(4)

kehilangan serupa pelajaran

akan terus berulang

sebelum sampai pada penyerahan

(5)

bacalah sajak

dan genggamlah setiap kunci

seperti kau dekap kekasihmu

seperti kematian mendekapmu

2011

Ahmad Muchlish Amrin

BERKISAR MERAH DARI KANGEAN

Pulau ini telah mengambil langit

dalam diriku, hingga matahari dan bulan tak terbit.

Kunyalakan perapian di mataku

lalu aku mengembara sambil kuteguk bayangan diriku.

Kutarik suaraku sepanjang jalan.

Keras dan lantang.

Pulau mengembalikan langit,

hingga matahari dan bulan

bersinar dalam kata-kataku.

Pulauku ingin berkata-kata lewat suaraku

dan mengembara dengan kakiku dan

menaruh mahkota di kepalaku dan

kubawa pulauku menyeberangi laut

sampai maut bertaut.

Kangean, Desember 2010

Ahmad Muchlish Amrin

KEPADA UMBU LANDU PERANGGI

Umbu, pada laut yang menyimpan maut

aku ingin bertanya muasal pasang dan surut.

Pada mata sedalam laut

kutangkap ikan-ikan bersisik lumut:

menelan matahari di siang hari

dan menelan bulan di malam hari.

Memang aku tahu

sirip kanan-kiri mengipas di air garam

tapi ikan-ikan tak pernah asin.

Umbu, di atas sampan kukibarkan layar

tiang menusuk bintang bagai bulu mataku,

gelombang menggesek air

yang bergambar bunga karang di dasar,

dan di tengah bahtera itu, Umbu

sudah tak kukenali lagi arah

hanya biru langit

dan air laut berombak di mata.

Memang aku tahu

langit selalu bertaut pada laut

adakah laut mengalami maut, Umbu?

2009-2011

****

Ahmad Muchlish Amrin lahir di Sumenep, Madura, 24 Agustus 1984. Kini ia mengelola Komunitas Tang Lebun di Bantul, Yogyakarta.

Gunawan Maryanto bergiat di Teater Garasi sebagai penulis dan sutradara. Buku puisinya yang terbaru, Sejumlah Perkutut buat Bapak (2010), mendapat Khatulistiwa Literary Award 2010. Ia tinggal di Yogyakarta.

Toni Lesmana lahir di Sumedang, Jawa Barat, 25 November 1976. Ia menulis puisi dan prosa dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. ***

Source : Kompas, Minggu, 17 April 2011

KOMENTAR

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • idrus bin harun

Minggu, 17 April 2011 | 19:41 WIB

keren

Balas tanggapan

Minggu, 17 April 2011

PUISI Gunawan Maryanto, Toni Lesmana, dan Ahmad Muchlish Amrin


Source : Kompas, Minggu, 17 April 2011

Senin, 11 April 2011

SEJARAH : Dimanakah Danau Vostok ?


Source : Kompas, 6 Maret 2011

Kamis, 07 April 2011

Cerpen "PUSARA" Yovantra Arief

Kamis,
7 April 2011

RUSWANTO ADI PRADANA ONLINE


CERPEN

Pusara

Oleh Yovantra Arief


Apalagi yang luput untuk diceritakan? Gelas-gelas kosong, isak tangis surut, pelayat beringsut meninggalkan rumah duka dan ayat-ayat suci menguap di udara. Jenazah masih berbaring kaku, asing dari keajaiban.

Suasana berkabung dengan air mata dan doa-doanya terlalu menyedihkan. Aku memandang Togar, teman lamaku sejak kecil, dari kejauhan. Dia setengah mati menahan diri untuk tidak menangis. Padahal dia berhak untuk itu. Kami berdua dan adiknya; Ranto, yang menjadi jenazah sekarang, tak pernah luput satu sama lain semenjak kecil. Aku pun mestinya menangis, tapi tidak. Tuhan—dan Anda juga nanti—tahu aku adalah orang yang menyedihkan. Tidak perlu air mata untuk membuktikan itu.

Para pelayat mulai surut; tinggal keluarga inti, beberapa kerabat dekat dan kekasih yang ditinggal pergi. Aku meminta diri. Togar mengerti lalu mengantar sampai ke pintu. Jabat tangan kami berlanjut jadi pelukan erat. Aku merasakan cairan hangat merembes di punggungku. Samar sebuah isak lolos dari pengawasannya, kemudian dia melepas lengannya dariku dengan wajah seperti yang selalu kulihat: air muka keras dengan keangkuhan yang khas serta segaris senyum yang jarang luput dipasang. ”Sering-sering main ke sini,” katanya. ”Pasti,” jawabku. Kami saling bertukar salam dan dia kembali menyelinap dalam kesedihannya.

Aku berbalik menelusuri jalan pulang. Pukul dua. Fajar tinggal beberapa jam lagi. Purnama masih bergelayut di mana dia semestinya berada. Begitu pucat, begitu pasi. Begitu mati. Aku terus melangkah tanpa menoleh ke arah rumah duka untuk terakhir kalinya. Aku tidak bisa kembali melihat kesedihan itu. Tidak setelah air mata Togar merembes di punggungku. Aku tidak pernah menyambanginya lagi setelah malam itu.

Mungkin kematian bukanlah hal yang menyenangkan untuk memulai sebuah cerita, tapi sebuah cerita tetap harus dimulai dengan cara apa pun itu. Yang barusan kau baca bukanlah kematian pertama dan, aku bisa memastikan, bukanlah yang terakhir yang pernah bersentuhan denganku. Enam bulan setelahnya, kakek meninggal. Nenek benar-benar terpukul dan nampak kehilangan sebagian besar porsi kehidupannya. Satu tahun kemudian, beliau menyusul. Sebelum kusadari, aku mulai menandai waktu dengan kepergian orang-orang di sekelilingku. Mungkin aku terkesan terlalu muram; terlalu melebih-lebihkan, tapi seperti sudah kubilang sejak awal, pada dasarnya aku memang orang yang menyedihkan.

Selepas kuliah aku mulai mengendus rupiah sebagai freelance graphic designer. Nama yang kedengarannya cukup upbeat—mungkin karena ditulis dalam cetak miring—tapi biar aku luruskan terlebih dahulu: kemilau graphic design nyaris hanya sebatas nama. Sebagian lulusan sekolah graphic design terdampar menjadi pengusaha jasa printing kelas menengah dan sebagian besar ilmu yang dibayar dengan harga mahal tersesat tak tersalurkan. Sebagian lain bekerja mati-matian untuk memenuhi tuntutan industri kemasan sekaligus harus berhadapan dengan klien keras kepala, pesaing picik dan perlombaan dengan waktu.

Lama-kelamaan kau akan kelelahan dan ketika rasa lelah itu merongrong batok tengkorakmu, fakta yang tak terelakkan menendang bokongmu: kreativitas yang awalnya kau harapkan akan membantu mendaki tangga karier tak membawamu ke mana-mana. Kreativitas hanya kemampuan membongkar-pasang idiom-idiom klise lawas dari tempat sampah untuk menghasilkan sesuatu yang—nampaknya—baru. Yang benar-benar kau butuhkan adalah kecerdasan sosial.

Secara finansial mungkin pekerjaan ini tidak terlalu memuaskan, tapi tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku juga butuh makan dan orangtuaku tidak bisa terus-terusan memanggul tanggung jawab itu. Bekerja adalah hal yang semestinya dilakukan selepas kuliah. Untuk itulah orang rela membuang uang demi pendidikan. Semua orang tahu: lahir, sekolah, kerja, menikah, punya anak, kerja lagi, dan akhirnya, mati.

Hari-hari berlalu. Banyak cerita yang luput. Lima tahun setelah pemakaman Ranto aku berusia dua puluh enam dengan pekerjaan tetap dalam media massa. Wanita datang-pergi, dua tahun ini bernama Asri. Satu tahun lebih muda, cerdas, manis, dan punya senyum menawan ala iklan pasta gigi.

Kematian menghadang suatu pagi. Tak diduga dan tak dikenal, bergelimpang begitu saja di tengah jalan dengan sayur-mayur, tangis bocah dan sepeda motor tua. Sebuah truk melanggar sebuah keluarga kecil yang berboncengan di atas motor di perempatan. Sang ibu hanya luka kecil, begitu juga dengan kedua anaknya—bocah laki-laki sekitar lima tahun dan gadis cilik selisih beberapa tahun lebih tua, keduanya berseragam SD. Namun tidak dengan sang bapak. Wajahnya rusak terhantam trotoar dan tubuhnya remuk tergilas roda truk. Dia tewas seketika. Puluhan orang mengerubung, polisi merapikan lalu lintas yang kusut. Beberapa orang ditagih keterangan. Sopir truk bermata merah diamankan. Aku urung bekerja hari itu.

Ibu terkejut melihat kepulanganku, hari masih pagi dan aku sudah pulang dengan awan hitam menggantung di atas ubun-ubun. Aku bilang sedikit tidak enak badan, dia percaya lalu pergi ke kamar mandi. Di atas kasur aku mereka ulang kejadian; bapak menjemput ibu di pasar lalu mengantar kedua anaknya bersekolah. Lampu lalu lintas berubah merah, tapi kedua anaknya sudah hampir terlambat. Tak ada kendaraan lewat di depan. Dia tancap gas. Lalu sopir truk: pertengkaran dengan istri membuatnya tak bisa tidur semalaman, matanya berat meski segelas kopi kental sudah disikat. Lampu kuning, dia mengusap mata dan menggeleng keras mengusir kantuk. Gas diinjak dalam karena kecepatan bisa membuatnya tetap terjaga. Sepeda motor melengang dengan suara terbatuk. Kantuk diusir panik. Rem sempat diinjak, tapi terlambat tetap terlambat.

Keputusan itu datang begitu saja. Mendadak menelusup masuk ke kepalaku ketika ia terpelanting di atas bantal. Aku harus keluar dari tempat ini, sangkar yang menjadi tempatku kembali sampai sekarang. Memalukan, kata orang, masih tinggal bersama orangtua. Tapi bukan itu yang jadi alasan. Kejadian di jalan beberapa hari lalu terus menghantui kepalaku. Darah di jalan, anak-anak menangisi kematian ayah di dekapan ibu mereka—begitu intim. Begitu tragis.

Seperti foto di dinding: ibu—dengan gaun merah dan rambut disisir ke belakang—di sebelah kiri; memangku adik yang tidak sempat bersiap untuk difoto, ayah mengenakan jas hitam dan sebuah kumis tipis berdiri kaku di samping ibu, aku di depannya, tujuh tahun, dengan setelan kemeja putih dan tawa lebar. Waktu membuat foto itu usang. Kenangan di dalamnya terasa berjarak. Di dalam bingkai itu aku menemukan sebuah keluarga. Begitu intim. Ketika aku mendapati diriku sendirian di meja makan untuk makan malam: begitu tragis.

Tidak ada drama ketika aku pergi karena aku tidak pergi jauh. Rumahku hanya empat puluh lima menit dari rumah. Ibu masih tertidur waktu aku mengangkut barang terakhir, adik sudah pergi kuliah sedari pagi dan ayah pun tak ada di rumah. Tempat tinggal baruku benar-benar sederhana. Satu ruang tamu, dua kamar tidur, satu kamar mandi dan satu dapur. Sedikit perabotan... paling tidak aku bisa menyebutnya rumah.

Dua tahun kemudian aku dan Asri menikah.

Hari-hari yang baru menunggu di depan sana. Aku mencintai Asri dan mungkin dia juga begitu. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil terus menyisip dari balik selimut, kopi pagi, dan telepon di jam istirahat.

Suatu malam aku terbangun dengan keringat dingin. Mimpiku pasti buruk sekali, mujur aku lupa ketika terjaga. Mimpi itu masih menyisakan teror yang merayap di balik kulit. Merobek dinding tipis yang memisahkannya dari realitas dan mengintip dari celah sempit. Mengintai dengan tajam matanya yang entah, menunggu waktunya tiba. Aku tidak tahu apa. Asri tidur meringkuk memunggungiku. Tersesat dalam mimpinya sendiri. Saat seperti inilah, pembaca yang budiman, kesepian nyata-nyata menyelimuti dan kau bisa menggapai tanganmu untuk merangkulnya.

”Jatuh tertidur sungguh mengerikan,” celetuk Patricia Franchini. ”Tidur memisahkan manusia. Meski kau sedang tidur bersama seseorang, kau tetap sendiri.”

Hey, siapa Patricia Franchini? Apa urusan dia di cerita ini?

Aku bangkit menuju dapur untuk sekaleng bir lalu duduk di ruang tamu. Dua pasang mata di dinding memandangiku tanpa berkedip. Tapi bukan aku benar yang mereka pandang. Tatapan itu terlempar jauh ke depan, menantang masa depan dan segala kejutan yang disimpannya tanpa bersenjata apa-apa. Mungkin tanpa senjata sama sekali pun tidak sepenuhnya benar. Keduanya membersitkan cinta. Kau bisa melihatnya dari mata Asri yang sedikit sembap karena haru. Hari pernikahan kami benar-benar melepaskan kodratku sebagai makhluk yang—pada dasarnya—menyedihkan. Sampai sekarang pun aku masih merasa asing di depan foto pernikahan kami.

Inikah jawabannya—jalan keluar dari kehilangan dan kematian yang bertubi-tubi? Tiba-tiba aku bertanya-tanya. Cintakah? Kalau benar, apakah benar aku mengalaminya?

Cintakah Ferdinand dan Mariane, Samsul Bahri dan Siti Nurbaya—cintakah strangers in the night yang begitu sendu dinyanyikan Frank Sinatra? Kalau bukan, kenapa aku menitikkan air mata untuk mereka, seperti aku menitikkan air mata ketika Asri mengatakan ’iya’ untuk lamaranku?

Aku tidak menemukan jawabannya. Cuma ada tanah basah dan nisan dingin. Kaleng bir lolos dari genggamanku lalu menghantam ilalang. Gila, hidupku hanya perjalanan dari satu pemakaman ke pemakaman lain. Selalu tentang kematian dan kehilangan. Pikiran ini sudah cukup untuk menerormu seumur hidup.

Aku bersimpuh di depan nisan kakek. Nenek dan Ranto nampak tersenyum satu meter di bawah tanah. Dengan pengap dan belatung yang menggerogoti tubuh bagaimana mereka bisa tersenyum—seperti apa wujud tengkorak ketika sedang tersenyum?

Aku menemukan diriku terkapar. Peluh merangkak dari ujung mataku. Tak mengapa. Tak mengapa, tegasku meyakinkan diri sendiri.

Samar lagu mengalun. Sebuah tangan menuntunku untuk berdiri. Senyum pasta gigi itu menemukan pertahanan terakhirku dan meremukkannya dengan hangat. Tangan kanannya menyelinap di pinggangku dan jemari tangan kirinya menyelinap dalam jemariku.

”Sudah lama kita tidak berdansa dengan lagu ini.”

Sudah lama kami tidak berdansa dengan lagu ini. Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya berdansa, tapi perlahan aku menemukan ingatanku dalam setiap langkah.

Aku tidak lagi berjalan gontai dari satu pemakaman ke pemakaman lain. Aku berdansa. Kami adalah dua orang asing yang berdansa tengah malam di atas alunan strangers in the night Sinatra. Tak jauh dari kami Ferdinand dan Mariane berdansa, begitu juga Samsul Bahri dan Siti Nurbaya. Tak ada yang tahu letak cinta, tapi cinta tahu untuk siapa dia ada. Mungkin.

Senyum pasta gigi Asri melumer, tinggal partikel kristal yang berkilauan di sela deretan giginya. Begitu asing. Setelah sekian lama aku hanya jadi penonton dalam hidupku sendiri, aku baru sadar aku tidak pernah sendiri. Selalu ada tangan-tangan yang siap mengangkatku kalau aku jatuh dan aku tak pernah peduli. Aku selalu penuh dengan diriku sendiri. Aku lebih banyak menggunakan ’aku’ kalimatku. Aku tak tahu apa pun tentang Asri. Aku tak menyisakan banyak kalimat untuk menggambarkan betapa cantik senyumnya, molek kulitnya, bagaimana matanya menyihir kata-kata sampai kehilangan makna. Tentang kesedihannya, kehilangannya... dia pantas untuk itu. Begitu juga dengan Ranto, nenek dan kakek. Ayah, ibu, adik, Togar—

Cerita ini harus ditulis ulang. Mulai dari hari pertama aku bertemu Asri.

Source : Kompas, Minggu, 3 April 2011


KOMENTAR

Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini.


  • eko wahyu widodo

Minggu, 3 April 2011 | 23:29 WIB

Sekali membaca cerpen ini, belum ada makna yang bisa kucerna, meski rasanya tidak ada yang kurang, tapi entahlah sulit merangkai alinea satu ke alinea berikutnya, tapi anehnya ini menimbulkan penasaran sehingga seakan mengharuskan aku membaca dua atau tiga kali lagi, dalam suasana yang berbeda barangkali bisa timbul kesan yang berbeda juga.

Balas tanggapan


  • Tito Doni

Minggu, 3 April 2011 | 11:49 WIB

Yovantra Arief yang nulis.. keren..

Balas tanggapan


  • ahmad rivai

Minggu, 3 April 2011 | 07:40 WIB

ini yg nulis sapa? cara berceritanya mengingatkan pada agus noor, SGA atau MB. Cerdas..!

Balas tanggapan