RAIH KEMENANGAN KLIK DI SINI

Minggu, 08 Agustus 2010

"BOROKISME" dan "Rayap- rayap"

"BOROKISME" dan "Rayap- rayap"

Grup rock Slank tampil saat meluncurkan album ke-18 mereka, Jurustandur No. 18, di markas mereka di Gang Potlot, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (20/7). Dari kiri: Ridho, Kaka, Bimbim, Ivanka, dan Abdee. (KOMPAS/DAHONO FITRIANTO)***

Oleh Dahono Fitrianto/Frans Sartono

Slank merilis album ”Jurustandur No 18” yang sarat kritik sosial. Seniman musik negeri ini dari masa ke masa merefleksikan situasi bangsanya lewat lagu.

Gang Potlot, markas Slank di Jakarta Selatan, gegap gempita pada 20 Juli lalu. Kaka, vokalis Slank, saat itu menyanyikan lagu ”Jurustandur”, singkatan dari maju terus pantang mundur. Di tengah lagu, Kaka menyelipkan lagu wajib ”Garuda Pancasila” dan mengajak semua undangan untuk menyanyi ”Ayo maju, maju. Ayo maju, maju. Ayo maju, maju...!”

”Album ini adalah refleksi Slank terhadap Indonesia selama tahun 2009 kemarin,” kata Kaka tentang isi album Jurustandur No 18.

Kita simak salah satu bait lagunya: ”Walau banyak yang coba jegal kita/ Kita selalu tegak/ Walau orang coba gagalkan kita/ Kita pasti bertahan....”

Lagu ”Jurustandur” merupakan wujud dukungan moral Slank terhadap semua pihak yang berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan di negeri ini. Termasuk para pemberantas korupsi, yang diharapkan terus maju pantang mundur. Band yang berawak Bimbim (drum), Abdee Negara (gitar), Ridho (gitar), Ivanka (bas), dan Kaka ini

risi dengan setumpuk permasalahan sosial politik di negeri ini.

Mereka juga menulis lagu ”Bobrokisasi Borokisme” yang menggambarkan budaya korup bangsa ini yang sangat parah. Simak liriknya: Minta disuap, doyan disogok/Seneng disuapin sambil disogok-sogok/Cari yang basah, yang banyak air/Alirkan deras dari hulu sampai hilir.

Dalam ”May Day”, Slank menyindir telak kondisi politik bangsa, yang meski sudah berganti-ganti presiden dan membuahkan puluhan partai politik baru, tetapi tetap belum bisa mengubah nasib buruh. ”Mau ada seratus kali pemilu di sini/Mau ada seribu calon-calon presiden/mau ada sejuta penguasa berganti/Masa bodo.... Masa bloon.... Masa stupid.... Aku gak peduli!”

Slank juga mengungkapkan keprihatinan akan kondisi lingkungan hidup lewat lagu ”Krisis Air”. Lagu ini ditulis khusus untuk konser Live Earth di Bali. Kondisi persepakbolaan Indonesia juga tak luput menjadi inspirasi buat Slank.

Tentu saja, Slank juga membawakan lagu bertema cinta dan hubungan romantis. Apa boleh buat, lagu cinta adalah dagangan wajib di blantika musik mana pun. Ada enam lagu cinta dan salah satunya adalah ”Kukejar & Kutangkap Kau”, yang menghadirkan bintang tamu model Fahrani untuk mendampingi Kaka tarik suara.

The Gembells, Mogi Darusman

Slank tentu bukan yang pertama melantunkan lagu bertema kritik sosial. Iwan Fals pada era Orde Baru dengan keras menyentil wakil rakyat yang suka ”tidur waktu sidang soal rakyat”. Bahkan, Iwan bersama grup Swami berani menyerang kesewenang-wenangan penguasa dalam ”Bongkar”.

Rhoma Irama pada era 1980-an bersama orkes Soneta-nya menyindir ketidakadilan di negeri ini dalam lagu dangdut ”Indonesia”: Rhoma membandingkan amanah Undang-Undang Dasar 1945 dengan realitas kehidupan rakyat yang seharusnya diayomi UUD itu.

”Seluruh harta kekayaan negara/ Hanyalah untuk kemakmuran rakyatnya/Namun hatiku selalu bertanya-tanya/Mengapa kehidupan tidak merata.” Dilanjutkan refrein: ”Yang kaya makin kaya/ Yang miskin makin miskin....”

Sebelum itu, pada awal 1970-an, band asal Surabaya, The Gembells, menyentil kiri kanan. Termasuk kepada dokter-dokter yang mencari keuntungan pribadi dan tidak memedulikan pasien lewat lagu ”Hey Dokter”. The Gembells (singkatan dari gemar belajar) menyindir pemerintah yang melupakan jasa pahlawan lewat lagu ”Pahlawan yang Dilupakan”. Rasanya lagu yang dibuat hampir 40 tahun silam itu masih relevan dengan nasib keluarga pahlawan yang (nyaris) dilupakan: ”Oh prajurit, oh pahlawan kau tlah dilupakan/Tiada bintang tanda jasa/Imbalan bakti dan juangmu....”

Dalam lagu itu, The Gembells lewat suara Victor Nasution menyindir telak pemerintah lewat lirik yang diucap (spoken) ”Mereka buta terlalu buta....”

Pada tahun 1978, Mogi Darusman muncul lewat lagu ”Rayap-rayap”. Lirik lagu ini sangat keras, pedas, dan sinikal, terlebih untuk ukuran era yang represif saat itu. Kita simak bait awal: ”Kau tahu rayap-rayap/Makin banyak di mana-mana/Di balik baju resmi/ Merongrong tiang negara....lirik refreinnya lebih ganas dan terkesan bermuatan amarah: ”Rayap-rayap yang ganas merayap/Berjas dasi dalam kantor/makan minum darah rakyat/.... Babi-babi yang gemuk sekali/ Dengan tenteram berkembang biak/Tak ada yang peduli....”

Rasanya lirik-lirik lagu kritik sosial itu masih terdengar merdu di tengah situasi negeri saat ini.

Sumber : Kompas, Minggu, 8 Agustus 2010 | 03:36 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar