RAIH KEMENANGAN KLIK DI SINI

Minggu, 22 Agustus 2010

CERITA ANAK : Buku Sedih Cici Kelinci

Buku Sedih Cici Kelinci

Mama, mengapa Mama lupa menjemputku? Cici jadi harus pulang sendiri,” kata Cici sambil melempar tas ke atas sofa.

Ia membuka sepatu, lalu melemparkan ke teras. Kaus kakinya pun diletakkan sembarangan. Cici kesal.

Mama tadi pagi berjanji akan menjemput Cici di sekolah. Biasanya, Mama akan datang bersama Boni, adiknya yang masih bayi. Lalu mereka akan berjalan pulang ke rumah bersama-sama.

Bagi Cici, itu adalah saat yang paling disukainya karena bisa bercerita panjang lebar tentang kegiatannya di sekolah.

TETAPI HARI ini, Mama ingkar janji. ”Mama minta maaf, sayang. Mama tidak lupa, tetapi tiba-tiba adikmu demam dan Mama tidak berani membawanya keluar.

Mama sudah menelepon Bu Tari dan menitip pesan supaya kamu pulang bersama teman-temanmu. Tetapi, ternyata teman-temanmu sudah pulang semua. Mama menyesal, Mama minta maaf,” jelas Mama sambil mengelus kepala Cici.

Tiba-tiba terdengar tangisan Boni dari dalam kamar. Mama segera meninggalkan Cici yang masih kesal.

”HU-UHHH! Selalu saja Boni yang diperhatikan. Aku tidak,” gerutu Cici sambil membawa kotak makan. Cici pergi ke halaman belakang.

Tempat itu seperti taman bunga karena Mama menyukai bunga. Ada macam-macam bunga yang ditanam Mama, seperti anggrek, mawar, melati, kana, bunga lili, dan masih banyak lagi.

Cici duduk di atas rumput sambil memakan sisa kue dari kotak makannya.

TIBA-TIBA…,

”Hai!” Suara itu mengejutkan Cici.

”Siapa itu?” tanya Cici.

”Ini aku. Ssst... di bawah sini,” kata suara itu.

Cici menundukkan kepalanya. Itu Peri Hijau, temannya yang hidup di antara bunga-bunga peliharaan Mama.

”Mengapa kau kelihatan kesal?” tanya Peri Hijau.

”Aku sedih dan kesal. Mama lebih memerhatikan adik daripada aku,” kata Cici sedih.

”Tetapi, sepertinya adikmu sedang sakit. Pasti Mamamu khawatir,” kata Peri Hijau.

”Mama lebih mengkhawatirkan Boni daripada aku,” kata Cici.

”Ia memang sedang khawatir, tetapi Mama tetap sayang padamu,” kata Peri Hijau.

”Lagi pula kamu, kan sudah besar. Sekolah tidak jauh dari rumahmu. Kamu bisa jalan pulang bersama teman-teman. Kamu bisa cerita kepada Mama setibanya di rumah. Cobalah, mungkin lebih menyenangkan,” Peri Hijau memberi saran.

Cici cuma merengut.

”Begini saja, coba kamu ambil dua buku, lalu kembali lagi ke sini,” kata Peri Hijau.

CICI MASUK ke dalam rumah dan kembali dengan dua buku. ”Untuk apa buku ini?” tanya Cici.

”Buku yang pertama adalah buku sedihmu. Di dalamnya kamu tulis semua kesedihanmu, sedangkan buku yang kedua adalah buku gembira. Di sana kamu tulis semua kegembiraanmu,” jelas Peri Hijau.

Cici jadi sedikit bersemangat. Di buku sedih ia menulis, ”Mama tidak menepati janji. Mama lebih menyayangi Boni.”

Peri Hijau memerhatikan tulisan Cici. ”Bagus. Sekarang buku yang kedua.”

Cici berpikir-pikir, sehari ini apa saja hal yang membuatnya gembira.

”Hari ini aku diantar Papa, senang sekali. Tugas menggambarku dapat nilai delapan. Tugas berhitung dapat nilai 10. Sewaktu istirahat, aku bermain ayunan dengan Tita. Hari ini aku dapat teman baru, Sasi namanya. Ia pandai bercerita.”

”Banyak juga, ya,” kata Cici senang.

PERI HIJAU gembira melihat Cici mulai bisa tersenyum lagi.

”Lihatlah. Kesedihanmu cuma ada dua, tetapi kegembiraanmu ada lima hari ini,” kata Peri Hijau.

”Iya,” kata Cici tersenyum. ”Aku ingat Tita dan Sasi. Mereka teman-teman yang baik.”

”Itulah gunanya buku-buku ini. Bila kau sedih, bukalah buku gembiramu, dan kau akan melupakan kesedihanmu.”

”Terima kasih Peri Hijau. Kau baik,” kata Cici. ”Aku mau menemui Mama. Aku ingin menceritakan kegembiraanku hari ini,” kata Cici sambil beranjak dari duduknya.

Ditinggalkannya Peri Hijau yang tersenyum melihat Cici.

Suryani Saudin,

Penulis Cerita Anak,Tinggal di Bekasi, Jawa Barat

Sumber : Kompas, Minggu, 22 Agustus 2010 | 04:05 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar