RAIH KEMENANGAN KLIK DI SINI

Minggu, 22 Agustus 2010

Puisi Zaim Rofiqi

Puisi Zaim Rofiqi

Telepon

Entah berapa lama aku tidur.

Aku bermimpi tidur panjang, sangat panjang, lalu sebuah

telepon berdering menggetarkan seisi ruangan dan aku tersentak

terbangun.

Kuangkat gagang telepon itu, “Halo, halo?”

Tak ada jawaban.

Hanya suaraku yang terdengar gagap,

gemanya terus-menerus memantul di seluruh ruangan hingga

membuatku tak bisa kembali tidur.

Aku masih terjaga mendengar gema suaraku sendiri ketika

menjelang subuh aku terbangun karena dering telepon yang

mengabarkan kematian kembaranku.

Di luar, jarum-jarum gerimis mulai menusuki kaca jendela

kamarku.

2009

—AndrĂ¡s Gerevich

Aku terbang di dalam mimpiku.

Aku bermimpi tidur panjang, begitu panjang, lalu seleret

halilintar berpijar diikuti sebuah dentuman besar menggelegar

dan aku tersentak terbangun, lalu terbang.

Mulanya aku hanya berputar-putar di atas tempat tidurku, turun,

naik, turun, naik, dengan keseimbangan yang tak pernah

kumiliki sebelumnya, lalu melesat ke kiri, ke kanan, berkitar-

kitar ke seluruh sudut mengamati seluk beluk kamar yang entah

telah berapa lama aku tinggali: aku telusuri dinding-dinding

kamar dari batu bata dan kayu itu. Di beberapa bagian

kutemukan cat dinding yang mulai terkelupas dan berbercak,

juga beberapa kayu yang mulai keropos karena rayap. Kumakan

dua-tiga rayap yang ada di salah satu kayu di sudut langit-langit,

lalu aku melesat ke atas meja, hinggap di atas sebuah dompet, di

depan sebuah pigura rotan yang terpelitur mengilat. Selembar

foto tua menghampar di dalam pigura itu. Cukup lama kuamat-

amati foto itu: dua perempuan dan tiga laki-laki saling

berangkulan. Wajah mereka semua menyeringai, kecuali satu

lelaki yang ada di ujung kanan. Aku merasa mengenal wajah itu,

tapi telah lupa siapa.

Bosan dengan pigura dan foto, aku beralih berkitar-kitar di atas

sebuah rak buku di sudut kamar. Dua buku besar bersampul

merah dan putih menarik perhatianku. Aku mendekat, dan

hinggap di atas sebuah cangkir plastik yang berdiri di atas salah

satu buku di rak itu. Namun, ups, cangkir plastik itu ternyata tak

kuat menahan berat tubuhku. Sebelum melesat, aku masih

sempat melihat air dari cangkir itu luber membasahi buku merah

dan putih itu, juga beberapa buku lain di kanan kiri mereka.

Aku kembali hinggap di atas meja, lalu melesat menuju sebuah

kursi di tengah ruangan. Beberapa saat berdiri di atas kursi itu,

aku merasa bingung apa yang harus kulakukan. Betapa besar

kursi ini, pikirku. Begitu besarnya hingga aku merasa ia bisa

menopang sepuluh atau lima belas kali lipat berat tubuhku,

bahkan mungkin lebih. Aku meloncat-loncat di atasnya. Seekor

semut terlihat menuruni sandaran kursi, dan dalam sekali gerak

aku berhasil menyambar makhluk kecil itu. Kembali aku berdiri

di atas kursi kayu itu, menoleh ke kiri ke kanan, ke atas ke

bawah, dan perlahan kusadari betapa luas ruangan tempat aku

dan kursi ini berada. Meski begitu, beberapa saat kemudian, aku

mulai merasa tak betah berada di tengah-tengah keluasan ini.

Ruangan ini begitu luas, dan mungkin sanggup menampung

ratusan, bahkan mungkin ribuan makhluk sebesar diriku, dan

aku mungkin bisa melakukan apa saja yang ingin kulakukan di

sini. Namun entah mengapa aku merasa ingin segera keluar dari

sini. Sesuatu di luar ruangan berdinding batu bata dan kayu ini

mungkin lebih menarik dibanding segala sesuatu yang ada di

sini, pikirku.

Melewati pintu kamar tidurku, aku sampai di ruang tamu.

Setelah melayang-layang mengelilingi ruang itu beberapa kali,

aku lalu hinggap di atas sandaran sebuah sofa panjang di tengah

ruangan. Sambil meloncat-loncat kecil menyusuri sandaran

berlapis beludru itu, aku perhatikan semua hal di ruangan ini,

dan tak lama kemudian perhatianku tersedot pada lantai yang

menopang semua benda di situ: lantai di bawah sofa tempatku

bertengger tampak putih bersih, satu dua kilau yang kadang

berkelebat membuatku tertarik mendekatinya. Beberapa saat

berdiri di atas lantai itu, aku melihat beberapa ekor semut

berjalan terburu, masing-masing memanggul sesuatu yang putih

di kepalanya. Begitu barisan itu mendekati kakiku, aku menjadi

tertarik menyantapnya. Namun tepat ketika aku hendak

menyambar salah satu dari semut-semut itu, dari bawah

tempatku berdiri ada sesosok makhluk asing yang tampaknya

juga ingin menyantap semut itu. Aku tersentak, dan langsung

melesat ke sudut kanan atas ruangan itu, lalu hinggap di atas

sebuah jam dinding tepat di atas pintu masuk. Di samping kanan

dan kiri jam dinding itu tergantung dua buah ukiran kayu

dengan motif dan bentuk yang hampir sama. Aku merasa begitu

akrab dengan kelak-kelok menyerupai huruf dalam kedua ukiran

itu, namun setelah silih berganti menatap dan mengamati

keduanya, aku masih saja gagal mengerti apa makna kelak-kelok

dalam kedua ukiran itu.

Dan ruangan ini pun segera membuatku bosan. Hamparan

berlantai putih bersih ini begitu indah dan megah, dan memiliki

cukup banyak hiasan yang menjadikannya tak tampak lompong

dan lengang: jam dinding yang mengeluarkan bebunyian setiap

satu jam, sofa beludru, ukiran nama dari kayu, vas bunga cantik,

guci antik, dan benda-benda lain yang tak mungkin kusebut satu

per satu. Dan aku mungkin bisa melakukan apa saja yang ingin

kulakukan dengan benda-benda itu. Namun aku merasa ada

sesuatu dalam diriku yang terus-menerus mendesakku untuk

segera keluar dari ruangan ini. Sesuatu yang mungkin ada di luar

bentangan berlantai putih bersih berkilau ini mungkin lebih

menarik ketimbang segala sesuatu di sini, pikirku. Dan aku pun

kembali memutari ruangan, mencari-cari apakah ada

kemungkinan keluar dari situ. Benar saja, tak lama kemudian

kutemukan lubang angin di atas pintu, yang tampaknya cukup

besar untuk aku lewati. Dan aku pun melesat meninggalkan

ruang itu, ke luar, ke sebuah wilayah tak berdinding tak beratap.

Di pagi hari, kamar tidurku dan ruang tamu itu penuh bulu-bulu

lembut ringan yang tertabur di mana-mana. Dan, dengan mata

terkatup, seonggok bangkai burung hitam terhampar di atas

keset di depan pintu masuk. Seekor kucing bersijingkat

mendekat mengendus-endus kakiku. Dengan riang, dengan salah

satu kaki depannya, dia menyentuh-nyentuh sayapku.

Di luar, hujan mengucur deras.

2009-2010

Zaim Rofiqi menulis puisi, cerita pendek, esai, dan menerjemahkan buku. Buku kumpulan puisinya berjudul Lagu Cinta Para Pendosa (2009).

Sumber : Kompas, Minggu, 22 Agustus 2010 | 03:51 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar