RAIH KEMENANGAN KLIK DI SINI

Minggu, 08 Agustus 2010

PUISI AVIANTI ARMAND

PUISI AVIANTI ARMAND

Kejadian 38:6

Tamar

Sesudah itu Yehuda mengambil bagi Er, anak sulungnya, seorang istri,

yang bernama Tamar.

Di tempat ia berdiri, tanah menjauh dari telapaknya

yang telanjang. Bayangan melata dari pasir

sebelum menjelma selubung

yang berkabung – memanjat, melibat.

Angin berdebar.

Padang kehilangan diam

dan tepi.

Dari utara berhembus

kata-kata:

”Re adalah iblis. Tapi mereka memanggilnya Er –

agar kamu mengenalnya dan

tertipu.”

Re. Er. Re. Er. Re. Er.

Seperti gumam air di kerongkongan batu.

Seperti simpul-simpul sungai

yang berwarna perak dan perak

yang menghitam di bawah mata.

Ia mendongak dan melihat:

Tak ada langit.

Di atasnya, laut bergulung-gulung menelan bintang

dan gugus awan. Matahari jatuh ke ujung palung.

Tapi jari pusaran menggigit daging, mengoyak

dari empat penjuru.

Empat belas Tamar terkelupas. Satu-satu.

Bulan mati bersama para pengembara,

sisa merah pada jubah, wangi bunga liar di rambut

dan rambut yang beriak punggung domba

dan kukur merpati di celah batu.

Waktu tenggelam. Juga tanda tentangnya.

Lalu hari melemah

seperti usia.

Dari padang-padang Adulam

mereka mengambilnya

ketika musim masih muda

dan mimpi terdampar di tepi-tepi daun.

”Cuci kakimu, perempuan! Kenakan kasutmu!

Bergegaslah, sebelum hari jadi gelap!

Seekor keledai telah disiapkan untuk kau tunggangi.

Seorang lelaki sudah menunggu

untuk menunggangimu.”

Di tempat ia berdiri, semua sudah selesai.

Kejadian 38:7

Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata Tuhan,

maka Tuhan membunuh dia.

Menjelang subuh, mereka mengurapi tubuhku

dengan wangi kemenyan

dan membasuhnya

dengan minyak narwastu.

Sejak itu, ia bukan lagi milikku.

Seorang Kallah telah jadi.

Di antara ranum susunya diselipkan

sebungkus mur. Bibirnya sejalin

pita kirmizi.

Dari biang malam dijumput celak

penghitam mata dan mimpi dikikir

dari kuku jari.

Lalu mereka menabur emas di mangkuk gelas

dan manik perak pada kerincing lengan

untuk menghalau

masa lalu.

Lewat tengah hari, sebelum meninggalkannya

sendiri, sehelai kain dilekapkan ke wajahnya.

Ke sayapnya.

Dan ia tak terbang lagi.

Ia memandang ke ruas yang jauh.

Hujan pernah jatuh dan pergi

dari kebun-kebun anggur Eh Gedi.

Gurun kembali kering.

Di ambang pintu ada kabar yang menanti.

”Mempelai datang! Mempelai datang!”

Perempuan-perempuan bergegas menebar

daun-daun palma di jalan dan di ruang ini

mencawiskan puja-puji.

”Moleklah pipimu di tengah permata

dan lehermu yang dibuhul

seutas nama”

Setelah itu pesta rebak. Rebana terdengar.

Salam berlabuh di pipi, memantul di dinding-dinding.

Tubuh-tubuh bergerak. Warna terserak.

Senyum berenang di alir arak. Tawa tumpah.

Gendang mendetak-detak.

Hingar kian tak reda.

Di pelaminan, sebuah pertunjukan boneka.

Tapi di balik cadar tak ada

apa-apa.

Apa yang kumengerti?

Hari yang tak akan usai akan mendorong mereka

ke dalam ruang tak bernetra.

Lalu hanya aku yang tahu

segala sesuatu

setelah itu.

Pasir. Pasir. Namaku.

Pada detik itu

Tamar gemetar oleh gentar dan gairah.

Susut oleh takut

dan remang sumbu. Tapi di tanah

ada jejak tanda tanya

yang mendekat.

Lalu mereka berhadapan.

Chatan dan Kallah.

Lelaki itu menjamah

Mata. Pipi. Bibir. Leher. Lalu –

”Ini?”

”Susu,” jawab perempuan itu.

Lelaki itu pun menunduk, menjulurkan lidah

dan melingkari puting dengan ujungnya

yang runcing.

Lalu seperti bayi

mengulumnya.

Perempuan itu seketika berubah:

pohon kurma dengan gugus buah

yang menggelantung

dan menetes-neteskan madu

dan getah

dari bawah.

Minyaknya lebih harum dari segala macam rempah

yang ia rekah

dan mabuk.

Mereka mabuk

dan belajar bahwa

kulit hanya jangat dari sesuatu

yang sangat asing

dan rentan

mungkin binatang yang melenguh saat disentuh,

daging liat dan magma yang tak mati

bahkan di beku dini hari.

Lelaki itu terengah,

guruh menggeram –

dan tiba-tiba

bintang-bintang terlepas

gagap menyelusup

ke lipatan langit.

Gerak terpatah dari pasir yang berpusar, brutal,

menarik mereka ke satu titik hitam yang menakutkan

tapi indah.

Ketika tanah seperti rekah

di punggung lelaki itu dingin naik

merayapi tengkuk.

Ia gemetar

sesuatu dalam tubuhnya akan meledak

dan mereka akan bersama

meledak.

Aku takut.

Mungkin aku

mati.

Er, lelaki itu,

terisak.

Dari antara kakinya menetes-netes panas

yang mengalir ke depan pintu.

Tapi perempuan yang telah tersingkap auratnya itu

masih semu merah.

Ia berseru:

”Siapakah engkau yang merenggut hakku atas benih?”

Dan perempuan itu berdiri.

Ia tiang awan hitam

yang limbung.

Ia jatuh

dan pecah

jadi keping

dan keping jadi gagak

yang mengepak gugup

ke arah lelaki itu,

merutuk, mematuk,

hingga

dari antara kakinya menetes-netes merah

yang mengalir ke depan pintu.

Selebihnya subuh.

Dan matahari yang patuh

menyeka kembali

jari-jarinya.

Perempuan itu membaringkan tubuhnya

dan mengatupkan mata yang lelah.

Di langit timur, terbuat nubuat,

”Tuhan adalah tangan yang terayun. DitebasNya

siapapun yang jahat di mataNya.”

Ia memang berkata: ”Aku adalah pedang.”

Catatan :

Chatan: mempelai laki-laki dalam adat Yahudi.

Kallah: mempelai perempuan dalam adat Yahudi.

Avianti Armand tinggal di Jakarta. Kumpulan prosanya berjudul Negeri Para Peri (2009). Puisi di atas, terilhami kisah tentang Tamar dalam Kitab Perjanjian Lama, adalah salah satu karyanya dalam antologi Perempuan-Perempuan dalam Kitab yang akan terbit tahun ini.

Sumber : Kompas, Minggu, 8 Agustus 2010 | 05:30 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar